Selasa, 31 Mei 2011

PBL Keperawatan Anak



Praktek Belajar Lapangan yang dimulai dari tanggal 26 mei 2011 sampai dengan 28 mei 2011 ini cukup menyenangkan dan memberikan banyak pengalaman yang bisa kami aplikasikan pada saat kami berprofesi nanti. Tindakan yang ada pada praktek Belajar lapangan di ruang anak ini lebih ekstrim dan lebih menguras tenaga karena bukan hanya tindakan yang harus sesuai dengan SOP (untuk menjaga mutu dan kualitas tindakan keperawatan) tapi kita juga harus bergulat dengan tingkah anak yang terus bergerak saat akan dilakukan tindakan, apalagi tindakan invasif seperti pemasangan infus untuk memenuhi cairan, nutrisi, maupun pemberian obat melalui parenteral. Rata – rata anak merasa takut pada petugas kesehatan (dokter, perawat, dll) mungkin karena beberapa tindakan invasif tadi dan merasa sakit sehingga anak trauma dan takut.

Meskipun pemberian asuhan keperawatan pada anak berprinsip atraumatic care, akan tetapi dalam realita yang ada dilapangan, kemungkinan prinsip itu diterapkan adalah 45 % (menurut pendapat saya) karena pada kasus yang terjadi pada saat kami praktek, kebanyakan infus yang telah terpasang macet / tersumbat oleh darah kental, kemungkinan karena posisi menggendong ibu dan gerak anak yang begitu banyak sehingga pemanfaatan gaya gravitasi pada infus menjadi tidak ada, sehingga perlu dilakukan tindakan spooling yang menyebabkan anak kembali melihat jarum spuit / suntikan yang menurut pemikiran anak benda seperti itu yang pernah melukainya. Belum lagi saat dilakukan spooling, akan terjadi sedikit pergesekan pada pembuluh darah sehingga anak biasanya merasa sedikit sakit dan kaget juga tidak nyaman sehingga trauma pastinya akan terjadi sekalipun thrust telah terjalin dengan baik antara perawat, pasien, dan keluarga.


Ada juga beberapa tindakan keperawatan yang kami lakukan di ruang HCU (High Care Unit). Pasien di ruangan HCU adalah bayi – bayi resiko tinggi yaitu bayi – bayi yang sangat beresiko terjangkit penyakit dan mengalami penurunan kesehatan yang drastis sehingga tidak menutup kemungkinan dapat menimbulkan kematian pada bayi. Di ruangan ini seluruhnya merupakan bayi prematur yang umumnya lahir 2 bulan lebih cepat. Cukup banyak tindakan kami di ruangan ini, tapi yang lebih sering adalah pemberian makan melalui OGT (Oro Gastric Tube) dikarenakan terdapat bayi yang terdiagnosa mengalami asfiksia dan hiperglikemia sehingga pemberian makanan tidak mungkin dapat dilakukan dengan normal dan harus dilakukan diet makanan juga. Dikarenakan kami masih gugup saat melakukan tindakan pemberian makanan ini, maka dari itu kami melaksanakan tindakan ini bersama – sama (3 orang), sehingga masing - masing bisa mendapatkan kesempatan melakukan tindakan ini karena pemberian makanan pada pasien ini adalah 30 ml susu formula dan kami menggunakan spuit 10 ml sehingga pemberian makan dilakukan 3x pengisian, kami juga bisa saling mengingatkan satu sama lain jika ada kesalahan dalam prosedur. Dengan praktek ini, pengetahuan kami tentang dunia keperawatan semakin bertambah dan pastinya akan terus bertambah.

1 komentar: